//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Guru – Serdadu Pendidikan

Pernah kita mendengar guru adalah sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Darimana datangnya gelar itu?. Jika guru secara tulus dan jujur mengabdi kepada panggilan hidupnya sebagai guru dengan segala kelemahan dan keterbatasnnya, patutlah ia menerima gelar itu. Tapi bisa saja kalau kita memikirkan secara kritis, jangan-jangan gelar ini diberikan agar guru seakan-akan dibuat “tidur”, agar tidak menuntut kesejahteraan yang sebenarnya menjadi hak mereka. agar ketidakadilan bisa dikemas begitu rupa hingga kebenaran dan keadilan tidak terungkap. Betapa guru selalu berada sekian tingkat di bawah profesi lainnya. profesi guru mudah tercemar di dalam masyarakat kita. Ada orang yang memaksakan diri menjadi guru walaupun sebenarnya ia tidak dipersiapkan untuk itu, di dalam masyarakat kita masih ada anggapan bahwa siapa saja yang berpengetahuan bisa menjadi guru.

Guru pada masa kini, tampaknya telah ditindih banyak beban. Pertama, tugas yang diembannya tidak diimbangi dengan tingkat kesejahteraan yang memadai. Gaji guru yang kecil pun masih diperas dengan potongan macam-macam dengan dalih untuk keperluan dana sosial, asuransi, urusan korps, atau pungutan lainnya. Anehnya, guru pun tak bisa berkutik. Sikap penuh nilai pengabdian, loyalitas, dan tanpa pamrih agaknya telah membuat guru tak mau bersinggungan dengan konflik. Mereka lebih suka memilih diam daripada menyuarakan kenyataan pahit yang dirasakannya. Kedua, guru sering dijadikan “kendaraan” untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Guru tidak punya banyak pilihan. Kebebasan dan kemerdekaan untuk mengeluarkan pendapat telah dibatasi oleh simbol-simbol tertentu. Guru harus menjadi sosok yang nrima, pasrah, dan tidak banyak menuntut.

Lain lagi dengan masyarakat desa, di pedesaan guru adalah sosok sentral bagi masyarakat. Jika ada orangtua maslah dengan anaknya, ia akan pergi ke rumah seorang guru. Kalau partisipasi warga perlu digerakkan untuk suatu proyek pembangunan di desa, gurulah yang pandai membantunya. Warga masyarakat banyak membutuhkan pertolongan guru untuk penyuluhan, pendampingan dan pengembangan lingkungannya. Tak heran bahwa di masa lalu guru masuk dalam kelas priayi. Guru dianggap seorang cendikiawan bagi lingkungan desanya. Bukan hanya di desa, kita sering mendengar orang-orang besar, orang pinter, pengusaha atau pejabat yang mengagungkan sosok guru. Banyak dari mereka mengakui menjadi “orang” karena guru. Dalam awal pembangunan negara kita pun, keberhasilan pada pengembangan kualitas sumber daya manusia, guru memainkan peran penting. Sering tidak terpikirkan bahwa untuk menghasilkan orang yang berkualitas, gurulah yang menjadi awal perjalanan sejarah orang tersebut.

Sementara itu, jika kita melihat fakta di lapangan, banyak kalangan mulai meragukan kapabilitas dan kredibiltas guru. Perannya sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan. Misinya sebagai pencetak generasi pinunjul –terampil dan bermoral—belum sepenuhnya terwujud. Para pelajar kita justru kian menjauh dari kondisi ideal seperti yang diharapkan. Yang lebih memperihatinkan, para pelajar itu dinilai mulai kehilangan kepekaan moral, terbius ke dalam atmosfer zaman yang serba gemerlap, tersihir oleh perikehidupan yang memburu selera dan kemanjaan nafsu, terjebak ke dalam sikap hidup instan. Tawur antarpelajar merajalela, pesta “pil setan” menyeruak, pergaulan bebas semakin mencuat ke permukaan.

Apakah guru masa kini masih mampu menginternalisasi sifat-sifat seorang resi dalam mengemban misinya sebagai pengajar dan pendidik? Masihkah masyarakat memiliki apresiasi yang cukup baik dan memadai terhadap profesi guru? Mampukah lembaga pendidikan (sekolah) dengan fasilitasnya yang lebih komplit dan modern mencetak manusia-manusia “unggul”?

Guru harus lebih meningkatkan profesionalismenya sehingga tidak “gagap” ketika mengemban misinya sebagai penyemai intelektual, pemupuk nilai kemanusiaan, dan penyubur nilai moral kepada peserta didik. Tentu saja, misi luhur guru ini harus diimbangi dengan intensifnya pendidikan keluarga di rumah. Orang tua harus mampu mengembalikan fungsi keluarga sebagai basis penanaman dan pengakaran nilai moral, budaya, dan agama kepada anak, sehingga mereka mampu mengontrol perilakunya sesuai ajaran-ajaran luhur. Sedangkan, pemerintah perlu segera meralisasikan janjinya untuk meningkatkan kesejahteraan guru yang sudah jelas landasan hukumnya, yaitu UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Harus ada upaya dan terobosan baru agar kesejahteraan guru benar-benar membaik. Dengan tingkat kesejahteraan yang layak, guru akan lebih terfokus pada tugasnya sehingga tidak berpikir lagi untuk mencari pekerjaan sambilan sebagai tukang ojek, penjual rokok ketengan, kernet, atau makelar yang bisa menurunkan wibawa dan citrra guru di mata masyarakat dan peserta didiknya.

Ibarat serdadu, guru di medan pendidikan mengemban misi memerdekakan generasi bangsa dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Mereka berada di garda depan dalam “menciptakan” generasi-generasi muda yang cerdas, terampil, tangguh, kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, berwawasan luas, memiliki basis spiritual yang kuat, dan beretos kerja andal, sehingga kelak mampu menghadapi kerasnya tantangan peradaban.

Sebagai serdadu pendidikan, kita semua jelas tidak menginginkan guru tampil loyo dan tidak berdaya memanggul beban di pundaknya. Memeikirkan dan memberikan apresiasi yang cukup proporsional tentangnya identik dnegan memikirkan nasib masa depan negeri ini. Sebab, generasi yang cerdas, terampil, dan bermoral tinggi yang kelak akan memimpin negeri ini, tidak luput dari sentuhan tangan sang guru.

About Aris Risyana

Mengasah Naluri Menguji Nyali

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: