//
you're reading...
Dunia Pendidikan

Pendiskreditan Sosok Guru dan Siswa dalam Sinetron Remaja

Berangkat dari rasa keprihatinan yang mendalam atas tayangan sinetron remaja yang lagi ngetop saat ini dan sedang ditayangkan di salah satu tv swasta nasional yang bagi saya seorang guru, tidak bernuansa hiburan yang mendidik sama sekali. Maka saya ingin mengajak semuanya yang masih punya nurani untuk menyikapi hal ini dengan tegas. Terutama kepada insan yang berkecimpung dalam dunia hiburan untuk memiliki tanggung jawab moral agar tidak menenggelamkan generasi muda (=baca remaja) dalam kubangan karakter buruk di hidup mereka. Sebab dampak suatu tayangan di tv dengan rating tinggi adalah, ditonton oleh ribuan orang, diidolakan tokoh-tokohnya sekaligus ditiru dan jadi panutan segala tingkah lakunya. Tidak peduli itu buruk atau baik.
Guru dan siswa adalah komponen pendidikan di sekolah yang memiliki fungsi sebagai insan yang terlibat dalam proses pendidikan. Interaksi antara guru dan murid senantiasa terjalin dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Siswa juga berperan sebagai peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. (Permendiknas no. 19 tahun 2005)
Sinergisitas antara guru dan siswa akan menciptakan suasana akademis sekolah yang harmonis, teratur dan menyenangkan, sehingga proses pendidikan akan mencapai kelancaran.
Sebuah kontradiksi yang amat menyedihkan, bila konsep sinergisitas guru dan siswa yang positif tadi dibawa ke ruang publik dalam bentuk tayangan sinetron remaja menjadi sesuatu yang menyesatkan.
Bisa jadi hal ini disebabkan oleh dangkalnya pemikiran dari pihak penulis skenario dan produser yang menyebabkan terjadinya persepsi yang negatif. Meskipun pada dasarnya tayangan sinetron itu bersifat menghibur, namun bukan berarti mereka memiliki kebebasan penuh untuk mendiskreditkan karakter guru dan murid dalam sinetronnya.
Saat ini yang dapat dilihat di tayangan sinetron remaja adalah suasana akademis di sekolah tidak ditonjolkan. Yang ada adalah tokoh guru tidak digambarkan sebagai sosok yang berwibawa, welas asih, penyayang dan dapat dijadikan suri tauladan, melainkan digambarkan sebagai seorang yang bodoh, pemarah, keras kepala, dan sifat negative lainnya. Sosok siswa juga tidak diidentifikasikan lagi sebagai seseorang yang sedang menuntut ilmu dalam menjawab tantangan zaman, tetapi lebih pada sosok yang hedonis, pragmatis, senang mencemooh, berkelahi, saling memfitnah dan hal-hal lain yang bersifat sangat negative.

Penayangan sosok dalam dunia entertainment seyogyanya harus memperhatikan hakekat dan esensi tokoh tersebut. Sehingga ada obyektifitas yang tidak akan merendahkannya. Baik sosok guru maupun siswa sebagai sosok pendidikan harus dieksplor dengan penuh pertimbangan dan tidak secara sepihak melakukan intepretasi pribadi tokoh sehingga karakter guru dan siswa agar tetap mencerminkan pada integritas pendidikan yang telah ada. Himbauan kepada pihak-pihak terkait untuk mengontrol dan mengoreksi tayangan-tayangan televisi yang berdampak negatif pada karakter bangsa

About Aris Risyana

Mengasah Naluri Menguji Nyali

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: